Senin, 30 Januari 2012

ASKEP SEPSIS

LAPORAN PENDAHULUAN 
SEPSIS

A.    MASALAH KESEHATAN

1.      Definisi
Sepsis adalah syndrom yang dikarakteristikkan oleh tanda-tanda klinis dan gejala infeksi yang parah, yang dapat dikembangkan ke arah septisemia dan syok septik. Septisemia menunjukkan munculnya infeksi sistematik pada darah yang disebabkan oleh penggandaan mikro organisme secara cepat atau zat-zat racunnya, yang dapat mengakibatkan perubahan psikologis yang sangat besar.
Sepsis Neonatorum adalah penyakit infeksi pada bayi dengan suatu sindrom klinik ditandai dengan adanya penyakit sistematik simptomatik, asymtomatik dan adanya mikroorganisme serta toxin yang dihasilkan dalam darah (endotoxin) yang ditandai dengan terganggunya perfusi jaringan/organ vital tubuh disertai penurunan tekanan darah yang disebabkan oleh pengaruh endotoxin terhadap sirkulasi darah.
2.      Etiologi
Disebabkan oleh infeksi jamur riektesia, virus, bakteri, dan kuman gram negatif.
a.       Antenatal  : kuman mencapai janin melalui sirkulasi ibu ke plasenta.
1)      Virus               : Rubella, Poliomyelitis, Coxcackie, Variola.
2)      Spirokaeta       : Typonema pallidum
3)      Bakteri                        : E. Coli, Usteria mono cytogenes.
b.      Intranatal : mikroorganisme masuk melalui cairan ketuban, kontak langsung dengan kuman dan vagina.
c.       Pascanatal : kontaminasi pada saat pemggunaan alat, perawatan tidak steril, akibat infeksi silang.
Streptococcus group B, Salmonella aurcus, klebsiela, Enterobactersp, Senatina sp, Hemophillus Influenza tipe B, Streptococcus pneumonia.


3.      Faktor Resiko
Prematuritas dan BBLR, ketuban pecah dini (>18 jam), demam intrapartum maternal (>37,5°C), leukositosis maternal (>18.000/ul), korioamnionitis, resusitasi saat lahir (Mansjoer,2000:509).
4.      Manifestasi Klinis
Menurut Mansjoer (2000 : 509) manifestasi klinisnya adalah sebagai berikut :
a.       Umum: panas, hipotermia, tampak tidak sehat, malas minum, letargi, sklerema.
b.      Saluran cerna: distensi abdomen, anoreksia, muntah, diare, hepatogemali
c.       Saluran napas: apnu, dispnu, takipnu,retraksi, napas cuping hidung, merintih, sianosis
d.      Sistem kardiovaskular: pucat, sianosis, kutis marmorata, kulit lembab, hipotensi, takikardia, bradikardia
e.       System saraf pusat: iritabilitas, tremor, kejang, hiporefleksi, malas minum, pernapasan tidak teratur, ubun-ubun membonjol, high pitched cry
f.       Hematology: ikterus, splenomegali, pucat, petekie, purpura, perdarahan
5.      Pemeriksaan Penunjang
            Bila sindrom klinis mengarah ke sepsis, perlu dilakukan evaluasi sepsis secara menyeluruh. Hal ini termasuk biakan darah, pungsi lumbal, analisis dan kultur urin, serta foto dada.
            Diagnosis sepsis ditegakkan dengan ditemukannya kuman pada biakan darah. Pada pemeriksaan darah tepi dapat ditemukan neutropenia dengan pergeseran ke kiri (imatur:total seri granulosit>0,2). Selain itu dapat dijumpai pula trombositopenia. Adanya peningkatan reaktans fase akut seperti C-reactive protein (CPR) memperkuat dugaan sepsis. Diagnosis sebelum terapi diberikan (sebelum hasil kultur positif) adalah tersangka sepsis (Mansjoer,2000:509).

6.      Penatalaksanaan
a.       Suportif.
Lakukan monitoring cairan, elektrolit, dan glukosa; berikan koreksi jika terjadi hipovolemia, hiponatremia, dan hipoglikemia. Bila terjadi SIADH, batasi cairan. Atasi syok, hipoksia dan asidosis metabolic. Awasi adanya hiperbilirubinemia, lakukan transfusi tukar bila perlu. Pertimbangkan nutrisi parenteral bila pasien tidak dapat menerima nutrisi enteral.
b.      Kausatif
Antibiotok diberikan sebelum kuman penyebab diketahui. Biasanya digunakan golongan penisilin seperti ampisilin ditambah aminoglikosida seperti gentamisin. Pada sepsis nosokomial antibiotik diberikan dengan mempertimbangkan flora di ruang perawtan, namun sebagai terapi inisial biasa diberikan vankomisin dan aminoglikosida atau sefalosporin generasi ketiga. Setelah didapat hasil biakan dan uji sensitivitas, diberikan antibiotik yang sesuai. Terapi dilakukan selam 10-14 hari. Bila terjadi meningitis anibiotik diberikan selama 14-21 hari dengan dosis sesuai untuk meningitis (Mansjoer, 2000 : 510).

B.  MASALAH KEPERAWATAN

1.      Resiko tinggi terhadap infeksi (progresi dari sepsis ke syok sepsis)
2.      Resiko tinggi terjadinya perubahan suhu : hyperthermi/hyphothermi.
3.      Penurunan perfusi jaringan
4.      Resiko tinggi deficit volume cairan.
5.      Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh.
6.      Gangguan rasa nyaman nyeri.

     PROSES KEPERAWATAN

1.   Pengkajian
a.       Keadaan Umum
1)      Bayi umumnya nampak tidak sehat.
2)      Buruknya kontrol suhu : hypothermi, hyperthermi
b.      Sistem sirkulasi
Pucat, cyanosis, kulit dingin, hipotensi, edema, denyut jantung abnormal (bradikardi, takikardi, aritmia).
c.       Sistem pernapasan
Pernapasan irreguler, apneu/tachipneu, retraksi.
d.      Sistem syaraf
1)      Kurangnya aktivitas : lethargi, hiporefleksia, koma, sakit kepala, pusing, pingsan.
2)      Peningkatan aktivitas : iritabilitas, tremor, kejang.
3)      Gerakan bola mata tidak  normal
4)      Tonus otot menigkat/berkurang.
e.       Sistem Saluran cerna
Tidak mau minum, muntah, diare, adanya darah dalam feses, distensi abdomen.
f.       Sistem Hemopoeitik
Jaundice, pucat, ptechie, cyanosis, splenomegali.
g.      Pemeriksaan Diagnostik
1)      Kultur (luka, sputum, urine, darah) : mengidentifikasi organisme penyebab sepsis.
2)      SDP : Ht mungkin meningkat pada status hipovolemik karena hemokonsentrasi, leukositosis, dam trombositopenia.
3)      Elektrolit serum : Asidosis, perindahan cairan dan perubahan fungsi ginjal.
4)      Glukosa serum : Hiperglikemia.
5)      GDA : Alkalosis respiratory dan hipoksemia.

2.      Diagnosa Keperawatan
a.       Resiko tinggi terhadap infeksi (progresi dari sepsis ke syok sepsis) sehubungan dengan perkembangan infeksi opportunistik.
b.      Resiko tinggi terjadinya perubahan suhu : hyperthermi/hypothermi sehubungan dengan peningkatan tingkat metabolisme tubuh, vasokontriksi/vasodilatasi pembuluh darah.
c.       Penurunan perfusi jaringan berhubungan dengan berkurangnya supply oksigen/pernapasan irreguler.
d.      Resiko tinggi defisit volume cairan sehubungan dengan diare, muntah, perpindahan cairan dari jaringan interstitial ke vaskuler.
e.       Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh sehubungan dengan mual, muntah, metabolisme meningkat.

3.      Intervensi Keperawatan
a.      Resiko tinggi terhadap infeksi (progresi dari sepsis ke syok sepsis) sehubungan dengan perkembangan infeksi opportunistik.
1)      Berikan isolasi/pantau pengunjung sesuai indikasi.
2)      Cuci tangan sebelum dan sesudah melakukan aktivitas walaupun menggunakan sarung tangan.
3)      Batasi penggunaan alat/prosedur invasif jika memungkinkan.
4)      Gunakan teknik steril
5)      Monitor suhu/peningkatan suhu secara teratur
6)      Amati adanya menggigil
7)      Pantau TTV klien
8)      Kolaborasi dengan team medis dalam pemberian antibiotik

b.      Resiko tinggi terjadinya perubahan suhu : hyperthermi/hypothermi sehubungan dengan peningkatan tingkat metabolisme tubuh, vasokontriksi/vasodilatasi pembuluh darah.
1)      Pantau suhu klien (derajat dan pola) perhatikan menggigil/diaforesis.
2)      Pantau suhu lingkungan/pengaturan suhu lingkungan.
3)      Isolasi anak/bayi dalam inkubator
4)      Beri kompres (dingin, hangat) bila terjadi peningkatan/penurunan suhu.
5)      Catat peningkatan/penurunan suhu tubuh bayi.
6)      Kolaborasi dengan team medis dalam pemeriksaan laboratorium (leukosit meningkat).
c.       Penurunan perfusi jaringan berhubungan dengan supply okigen berkurang/pernapasan irreguler.
1)      Kaji ulang terhadap pola pertumbuhan prenatal dan atau penurunan jumlah cairan amnion seperti yang dideteksi oleh ultrasonografi.
2)      Perhatikan jenis kelahiran dan kejadian intra partum yang menandakan hipoksia.
3)      Perhatikan waktu dan skor Apgar, observasi pola pernafasan.
4)      Kaji frekuensi pernafasan, kedalaman, upaya, observasi dan laporkan tanda dan gejala distress pernafasan, bedakan dari gejala yang berhubungan dengan polisitemia.
5)      Auskultasi bunyi nafas secara teratur.
6)      Hisap selang nasofaring sesuai kebutuhan, setelah pemberian suplemen oksigen pertama.
7)      Auskultasi nadi apikal, perhatikan adanya sianosis.
8)      Cegah komplikasi latrogenik berkenaan dengan distress dingin, ketidakseimbangan metabolik dan ketidakcukupan kalori.

Kolaborasi

9)      Pantau pembacaan oksimeter nadi.
10)  Pantau pemeriksaan lab sesuai indikasi, PH serum, GDA, dan HT.
11)  Berikan O2 hangat dan lembab, berikan vertilasi bantuan sesuai indikasi.
12)  Lakukan suction.
13)  Hindari pelaksanaan suction yang terlalu sering.
      Observasi dan kaji respon bayi terhadap terapi oksigen
(Doenges,2000).
d.      Resiko tinggi defisit volume cairan berhubungan dengan diare, muntah dan perpindahan cairan dari interstitial ke vaskuler.
1)      Pantau intake dan out put.
2)      Timbang berat badan setiap hari.
3)      Pantau kadar elektrolit darah, nitrogen urea darah, urine dan serum, osmolalitas, kreatinin, Ht dan Hb.
4)      Kaji suhu tubuh, kelembaban pada rongga oral, volume dan konsentrasi urine.
5)      Berikan : bentuk-bentuk cairan yang menarik, wadah yang tidak biasa (cangkir berwarna, sedotan) dan sebuah permainan atau aktivitas (suruh anak minum jika tiba giliran anak).
(Carpenito, 2000)
e.       Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan mual muntah dan metabolisme meningkat.
1)      Kaji BB dalam hubungannya dengan usia gestasi dan ukuran. Dokumentasikan pada grafik pertumbuhan. Timbang BB setiap hari.
2)      Pertahankan lingkungna termonetral, termasuk penggunaan incubator sesuai indikasi. Pantau suhu pemanas bayi dan lingkungan dengan sering.
3)      Lakukan pemberian makan awal dan sering serta lanjutkan sesuai toleransi.
4)      Kaji toleransi terhadap makanan. Perhatikan warna feses, konsistensi dan frekwensi, adanya penurunan subtansi, lingkar abdomen, muntah dan residu lambung.
5)      Pantau masukan dan haluaran. Hitung konsumsi kalori dan elektrolit setiap hari.
6)      Kaji tingkat dehidrasi, perhatikan fontanel, turgor kulit, BJ urine, kondisi membran mukosa dan fluktuasi BB.
7)      Pantau kadar Dextrosix segera setelah kelahiran dan secara rutin sampai glukosa serum distabilkan.
8)      Kaji tanda-tanda hipoglikemia.
Kolaborasi
9)      Pantau pemeriksaan laboratorium sesuai indikasi
10)  Berikan suplemen elektrolit sesuai indikasi : kalsium glukonat 10%.
11)  Buat akses intravaskuler sesuai indikasi.
12)  Berikan nutrisi parenteral.
13)  Diskusikan komplikasi jangka panjang dari malnutrisi pada bayi SGA dan kegemukan pada bayi LGA, diskusikan pentingnya protein selam pertumbuhan otak (Doenges, 2000).

DAFTAR PUSTAKA
Carpenito, Lynda Juall. 2000. Buku Saku Diagnosa Keperawatan Ediai 8. Jakarta : EGC.

Doenges, Marilyn E.dkk. 2000. Rencana Perawatan Maternal/Bayi. Jakarta : EGC.

Mansjoer, Arif dkk. 2000. Kapita Selekta Kedokteran Edisi Ketiga Jilid 2. Jakarta : Media Aesculapius FK UI.

Staf pengajar Ilmu Kesehatan Anak FKUI. 1985. Ilmu Kesehatan Anak. Jakarta : Info Medika Jakarta.


Artikel Terkait:




Artikel Terkait:




Artikel Terkait:


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar